Rabu, 04 Juli 2007

Cerpen Islami

Serenade Malam

“Ambilkan bulan, Bu....”

Ia melantunkan lagu tersebut berkali-kali di telingaku. Kadang sampai aku merasa bosan mendengarnya, tapi ia tidak pernah lelah menghiburku. Kakakku tersayang satu-satunya, ia tidak pernah bosan menina-bobokanku dengan lagu tersebut.

“Kak, kita tidur di sini sekarang?” tanyaku. Ia tersenyum dan mengangguk. Rambut pendeknya terayun-ayun dan matanya bersinar.

“Kita tidur di sini supaya bisa melihat bulan. Adek senang kan melihat bulan...?” tanyanya kemudian.

“He-eh.” Jawabku pendek. Aku sangat mengantuk. Karenanya, aku segera merebahkan diriku di atas terpal plastik yang ia dapat dari sisa-sisa bangunan yang baru dipugar siang tadi. Aku menatap langit yang terbentang luas. Pendar-pendar perak cahaya bintang kadang tampak mengabur di mataku yang tersapu angin. Suara jangkrik dari balik rumput liar begitu dekat terdengar di telingku. Sesaat kemudian, angin kali berhembus. Aku menggigil kedinginan.

“Dek, Adek kedinginan, ya...?” tanyanya sambil mengusap keningku. Aku mengangguk pelan. Aku ingin mengatakan padanya tidak apa-apa, tapi bibirku terasa kaku.

“Pakai sarung saja, ya Dek....” Ia mengambil tas kecil yang selalu tergantung di bahunya, kemudian mengeluarkan sarung kotak-kotak berwarna merah pudar. Tidak lama kemudian, seluruh tubuh kecilku sudah terbungkus oleh sarung tersebut, sarung satu-satunya peninggalan emak sebelum meninggal.

“Kak....” Aku mendesis. “Emak sekarang di mana ya?” Tanyaku.

Ia terdiam mendengar pertanyaanku, mungkin bingung menjawabnya.

“Emak sekarang ada di sana.” Jawabnya kemudian sambil menengadah menatap langit malam. “Adek lihat bintang-bintang itu...? Nah, bersama merekalah sekarang emak berada.” Lanjutnya.

Aku ganti terdiam. Bayangan emak satu persatu berkelebat di benakku. Tiga bulan. Ya, tepat tiga bulan yang lalu emak meninggalkan kami berdua. Biasanya emak tidak pernah pergi lama-lama, paling hanya untuk berjualan di pasar. Tapi kali itu tidak. Kakakku bilang, walaupun emak tidur, tapi ia tidak akan pernah bangun lagi.

Lalu semuanya berubah tiba-tiba. Para tetangga tiba-tiba saja datang dengan wajah sangar sambil berkata hal-hal yang tidak ku mengerti. Satu-satu mereka mengambil segala barang yang ada di dalam gubuk kami. Radio, kompor, panci, ember, bahkan hingga baju-baju tua ibu. Saat itu kakakku hanya menangis tersedu-sedu di sudut rumah sambil memelukku yang baru pulang bermain layang-layang.

“Dek, kita harus pergi dari sini.” Begitu katanya.

“Huaaaahhhmmm....” Aku menguap lebar-lebar. Rasanya mataku berat sekali.

“Kak, tidur yuk, sudah malam.” Ajakku.

Ia hanya tersenyum dan beringsut-ingsut mencoba merebahkan tubuhnya, tapi tiba-tiba...

“Aduuuuh.” Ia mengaduh kecil saat punggungnya menyentuh tanah.

“Kak, masih sakit punggungnya?” Tanyaku kaget. Terduduk aku memperhatikannya.

“Enggak...” Ia menggeleng, “Enggak apa-apa kok. Sudah kita tidur saja, yuk.” Jawabnya menghibur.

Dari sudut mataku, aku lihat matanya terpejam sambil meringis. Pasti sakit sekali pukulan orang itu siang tadi, pikirku. Aku mengeluh dalam hati. Ingatanku mengembara lagi.

Siang tadi, ketika mencari barang-barang bekas, tanpa sengaja kami melewati rumah makan besar. Dari balik kaca, terlihat orang-orang yang sedang makan. Satu demi satu potongan ayam goreng masuk ke dalam mulut mereka, dan mereka tampak sangat menikmatinya. Namun, tidak tahu mengapa penjaga rumah makan itu tiba-tiba keluar dan marah-marah pada kami. Ia bahkan mendorongku keras-keras sampai aku terjerembab. Kakaku sangat marah melihat aku terjatuh. Ia menyerang orang itu dan menggigit lengannya keras-keras.

“Aaaaaaah...anak gila!!” Teriaknya.

Saat itu aku melihat tangan orang tersebut melayang ke punggung kakak yang segera tersungkur. Sesaat kami jadi tontonan orang yang lewat, hingga seorang laki-laki yang berpakaian rapi keluar dari rumah makan dan mengusir kami.

“Orang itu jahat, ya Kak.” Kataku sedih. “Kalau aku sudah besar, ia akan aku pukul, supaya punggungnya juga merasa sakit!” Ujarku.

“Adek...adek.” Ia menggumam. Matanya menatapku ramah. Entah mengapa aku selalu merasa bahwa dibalik matanya tersembunyi bintang-bintang yang selalu bersinar terang.

“Kalau Adek sudah besar, Adek harus jadi seperti matahari. Tidak pernah bosan memberi kebaikan pada siapa pun, bahkan kepada orang-orang yang jahat. Yang cahayanya membuat bulan menyinari malam. Adek pun harus dapat menerangi kegelapan. Adek harus jadi anak yang baik, sabar, dan kuat.” Katanya pelan sambil tersenyum.

Aku tidak pernah mengira bahwa itu adalah saat terakhir ia berbicara panjang lebar kepadaku karena beberapa jam kemudian dalam lelapku, antara sadar dan tidak, aku mendengar tangis pelannya menahan sakit. Tangis yang perlahan-lahan lalu menghilang berganti dengan diam yang tenang. Baru ketika azan subuh terdengar aku terbangun dan mendapatinya tertidur dengan wajah yang pucat. Betapa takutnya aku ketika kulihat di sudut bibirnya terdapat jejak berwarna merah. Serentak aku berdiri dan mengguncang-guncang tubuhnya, tapi ia tidak bergerak sedikit pun. Sama seperti emak waktu itu.

“Kak, Kakak...!” Aku menatap wajahnya , mungkin mata bintangnya akan bersinar lagi. Tapi Tidak. Mata itu tetap terkatup erat. Aku menggigil.

Aku mundur ketika terdengar suara-suara ribut di depanku. Titik fajar sudah nampak. Sebentar lagi kali ini akan ramai dengan orang. Satu-dua bahkan telah datang dan menatap ke arahku yang beridiri bingung.

“Hei, siapa itu?”

Aku terkesiap. Langkahku menyurut.

“Hei, tunggu...!”

Aku berbalik dan berlari. Oh, entah kenapa. Aku merasa sangat takut. Mereka mungkin akan menangkap dan memukulku seperti yang mereka lakukan pada kakaku. Aku takut....!

“Heeeii....!” Terdengar langkah-langkah berat di belakangku.

Aku berlari tanpa arah menyusuri lorong-lorong kampung. Meninggalkan orang-orang yang semakin ramai berdatangan ke kali. Cepat, dan semakin cepat aku berusaha berlari agar mereka tidak sampai menangkapku.

Langit mulai bersemburat jingga. Satu buah bintang besar bersinar. Oh, Ibu aku harus ke mana? Tanpa sadar aku melintasi jalan raya. Suasana subuh. Dan dari balik tikungan aku melihat sinar. Sinar terang. Seperti mata kakakku.

“Kakak....!” Aku tertegun sesaat. Lalu tiba-tiba saja aku merasakan tubuhku melayang dan terhempas keras.

Sayup-sayup kudengar seseorang berkata, “Gila lu, nabrak orang!” Lalu kosong. Tidak terdengar apapun. Badanku terasa sangat sakit dan sulit digerakkan. Aku hanya terbaring diam. Sesaat kemudian sayup-sayup kudengar nyanyian jangkrik dari balik rumput liar yang kian pelan. Samar di langit kulihat dua buah bintang, salah satunya bersinar terang. Aku yakin mereka pastilah emak dan kakaku.

Aku memejamkan mataku. Aku menangis kesepian.

Buat adik-adikku
“generasi Indonesia yang tercabik-cabik di pinggir jalan”

Maratus Sholihah

Cantik, ga harus putih

Cantik adalah satu kata yang identik dengan cewek. Bisa dibilang ga ada seorang makhluk bernama cewek bakalan nolak dibilang cantik, terlihat cantik, dan menjadi cantik. Untuk kata itu juga, sebagian kaum hawa rela melakukan apa saja. Mulai dari aktivitas standar semacam bersolek alias dandan, sampe pada aktivitas yang melibatkan pisau dan gunting (eit…bukan lagi bikin ketrampilan lho). Kita sering menyebutnya operasi plastik atau bisa juga face off yang sekarang lagi heboh diberitakan media. Percaya ga sih, kalo media ternyata punya andil membuat definisi cantik. Coba deh tanya diri kamu sendiri ato temen-temen kamu, cantik tuh kayak apa? Hampir bisa dipastikan jawaban cantik akan tertuju pada cewek-cewek dengan kulit putih, tinggi 170 cm, berat badan ideal, rambut hitam panjang dan lurus n definisi-definisi lain yang fisik banget.

Yup, media pula yang ikut menggembar-gemborkan kalo seorang perempuan itu harus, kudu bin wajib cantik. Mau bukti? Liat aja kontes-kontes macam cantik Indonesia, gadis sampul, putri Indonesia, dkk, yang ga mungkin diikutin sama cewek dengan modal fisik “pas-pasan”. Sekalipun yang punya gawe berdalih kalo “beauty” hanya satu diantara kriteria yang dinilai selain brain dan behaviour. Tapi, kalo bener begitu, kenapa Pok Nori ga bisa ikut yach??. Bahkan di negeri Barat sono, ada kontes bernama Swan yang khusus diadain buat patnernya kaum adam yang merasa dirinya “jelek” dan dengan senang hati mau dipermak abis menjadi cantik laksana angsa (baca: swan). Dan ga tanggung-tanggung mulai dari ahli bedah plastik, pelatih kebugaran ampe psikolog terlibat langsung dalam acara yang bakalan mengubah hidup pada pesertanya (weleh…weleh…)

Buat generasi kartini yang merasa “biasa” dan bermodal cekak tapi punya khayalan tingkat tinggi (peter pan kali!), bisa jadi pengen tongkat ajaib yang dengan sekali simsalabim bisa mengubahnya secantik Dian Sastro, seputih Tamara Bletzinsky dan sejauh mata memandang, gak mungkiii….n banget. Jangankan buat operasi plastik, ke salon untuk facial aja bisa ga jajan sebulan, apalagi pake mandi susu, creambath, meni-pedi, spa, wah bisa puasa setahun tuh (he…he…). Walhasil, dipilihlah rangkaian produk kosmetik, dalam hal ini pemutih yang relatif lebih murah dengan iming-iming bakalan putih (cantik) dalam 4 minggu. Bahkan saking pengennya putih, temen-temen kita yang dari lahir udah punya kulit kayak Whoopy Goldberg, Naomi Campbell ato Whitney Houston juga maksa ga mo ketinggalan. Emang cantik harus putih? Apa juga mesti ribet begitu??

Gals, kalo ngebahas kata yang satu itu, kayaknya jatah kolom cewek banget yang cuman satu halaman ato Imud satu edisi juga ga bakalan cukup, tapi dibikin simpel juga bisa. Sebenernya kita ga perlu bingung kemana harus bertanya tentang masalah ini. Ga perlu ke dokter ahli or berduyun-duyun ke salon kecantikan. Coz “pakarnya” udah hadir dan siap menjawab semua tanda tanya. Termasuk problem “kecil” yang satu ini (back sound: please welcome…), apalagi kalo bukan Islam. Dien yang datang dari Dzat yang Maha Tahu dan Maha Indah. Islam ga pernah melarang kita jadi cantik. Bahkan kita disunnahkan senantiasa menjaga dan merawat diri kita. Sebagaimana sabda Rasulullah “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.” (HR. Imam Qurthuby dari Imam Makhul dari Aisyah ra.). Jangan sampe deh, kita tampil kumal, kusut, kumuh, kucel dan kutuan (idiiih…). Kita kudu memelihara kerapian dan kebersihan diri sebagai wujud rasa syukur atas apa yang udah diberikan Allah Sang Maha Rahman. Malah dalam QS. Al-A’raf 31, Allah berfirman, “Hai Anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. So, kemanapun kamu pergi, terlebih ke masjid, mesti rapi n bersih. Jangan kebalik, kalo kondangan aja dandan abis-abisan, giliran ke masjid asal-asalan.

(Kalo gitu boleh dong kita ngapain aja biar cantik?) Jangan salah, sekalipun ga ada larangan untuk cantik dalam Islam, bukan berarti kita bebas semau gue menghalalkan segala cara biar stempel cantik itu diketok ke muka kita (wadou…!). Boleh cantik asal syar’i. Gimana tuh?. Pastinya kita tidak diperbolehkan bertabaruj alias menampakkan kecantikan sampai memalingkan pandangan cowok karena saking terseponanya (QS. Al Ahzab: 33). Cewek dikatakan tabaruj kalo suka pake parfum yang wanginya menyengat hidung, memoles bibirnya sama lipstik, mengenakan pakaian ketat plus pendek n kalo ngomong suaranya dibuat mendayu-dayu. Lagian gals, kecantikan sejati adalah kecantikan alami yang muncul dari dalam, kita mengenalnya dengan inner beauty. Kecantikan kayak gini yang tahan lama dan ga dijual di salon manapun. Nah, biar kamu cantik luar dalem, ikutin deh tips-tips berikut, pertama, jadikan kebersihan dan kerapian diri sebagai ritual wajib tiap hari, boleh pake bedak, sekedar biar kamu keliatan fresh. Kedua jadikanlah menundukkan pandangan (ghadul bashor) sebagai hiasan kedua matamu. Oleskan “lipstik” kejujuran pada bibirmu. Pakailah sabun istighfar untuk menghindarkan kulitmu dari api neraka. Rawatlah rambutmu dengan shampo kerudung Islami, dan pakailah jilbab sebagai pakaian taqwa. Terakhir, poles kecantikanmu dengan terus membekali diri dengan tsaqofah-tsaqofah Islam. Dijamin, tanpa pemutih pun kamu bakalan cuantik abis!!!(Syamila)

Dunia Islam

Sama Ga’ Selalu Adil

Begitu kamu-kamu baca judul itu, pasti beragam ekspresi muncul. Mulai dari yang bener-bener ngeh, sedikit bingung tapi sambil manggut-manggut, sampai yang blank sama sekali meski jari telunjuk udah nangkring di kepala (duh, segitunya). Tenang aja gals, di CB edisi ini, kita bakalan kasih bahasan yang ok banget, makanya lanjuuuut…

Seringkali ketika kita ngomongin soal keadilan, pasti dalam benak kita cuman pembagian yang sama rata. Ibaratnya, kalo ortu kita baru pulang kondangan trus bawa dua kue yang harus dibagi bertiga ama sodara-sodara kita, biasanya masing-masing kue bakal dibagi jadi sepertiga, biar semua bisa ngerasain dengan adil, tul ga? Klo untuk urusan itu, mungkin kamu-kamu semua setuju. Tapi untuk kasus berbeda, prinsip itu ternyata ga berlaku. For example, kalo kamu yang udah kuliah disamain uang sakunya sama adek kamu yang baru masuk playgroup, masing-masing diberi selembaran uang bergambar imam bonjol. Dijamin, meski bukan pendekar, beragam jurus bakal kamu keluarin sebagai bentuk protes karena kamu merasa ortu ga adil. Betul apa bener??

Ngomongin soal kesamarataan, tau ga sih, kalo tema ini juga sedang gencar diopinikan oleh kaum feminis. Pastinya mereka bukan mo ngebahas soal pembagian kue yang sama rata antara kamu n sodara-sodara kamu, tapi mereka pengen agar kesamaan gender mewarnai kehidupan kita. Para pengusung ide gender itu beranggapan bahwa wanita dijajah pria sejak dulu (keroncong abiz nih ye…!) dan permasalahan yang terjadi pada kaum perempuan adalah akibat mereka dijadikan “kelas kedua”. So, menurut kacamata mereka, yang namanya perkosaan, trafficking (penjualan perempuan), kekerasan dalam rumah tangga, dan kawan-kawan, semata-mata terjadi karena generasi kartini dimarginalkan, dipinggirkan, direndahkan pokoknya melaaaaazz deh. Nah, karena pandangan itulah mereka rela capek-capek, mendaki gunung, menyebrang lautan, menerjang badai (hiperbola banget ya!) biar perempuan setara dengan laki-laki. Kalo kaum adam bisa jadi presiden, kaum hawa ga boleh kalah. Kalo petinju biasanya cowok, cewek jangan sampe ketinggalan. Sekalian kalo tukang becak selama ini didominasi pria, sekarang perempuan harus bisa narik becak (capek, deh…). Padahal apa iya solusi yang mereka tawarkan bener-bener bisa memecahkan persoalan perempuan? Ato jangan-jangan ide dan aktifitas mereka justru menimbulkan masalah baru?(Nah lho!!)

Gals, dalam memandang masalah ini, kita emang wajib menggunakan akal sehat, pikiran jernih dan hati yang bening. Sebenernya masalah yang terjadi pada kaum perempuan ini, bukan semata-mata persoalan perempuan. Tapi ini juga persoalan laki-laki ato manusia secara umum. Coba deh kita kasih sedikit analisa dan buktinya. Pada kasus seorang hawa yang diperkosa, pasti banyak sekali faktor yang melatarbelakangi. Bisa jadi dia diperkosa karena pelakunya keseringan nonton vcd porno. Kamu pasti tau dong, dengan modal uang dan iman yang cekak, siapapun bisa ngedapetin plus menikmati vcd porno. Trus nafsunya terbangkitkan dengan “sukses”, sementara dia ga punya istri, maka terjadilah. Ato si perempuan mengenakan pakaian minimalis trus keluyuran malem-malem. Dia terbiasa bergaul bebas, dugem, sekaligus berpakaian “mengundang” biar ga ketinggalan tren yang penuh dengan aroma kebebasan. Kalo udah kayak gini, jelas ini bukan persoalan perempuan, tapi persoalan semua manusia, coba pemerintah lebih tegas melarang peredaran pornografi, coba kalo pergaulan bebas tidak dibiarkan merajalela pasti perkosaan ga akan terjadi, sepakat dong?!

Lagian ketika Alloh menciptakan manusia menjadi laki-laki dan perempuan, semua itu bukan asal, tapi pasti ada maksudnya. Sebagaimana firman Alloh, “Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.”(QS. Adz- Dzariyat: 49). Sama sekali Allah ga bermaksud untuk menjadikan perempuan sebagai manusia ke dua, apalagi mendiskriminasikan kaum hawa dan meninggikan kaum adam, tidak!. Tapi semata-mata agar kita semua mengingat kebesaranNya. Kebayang ga sih kalo di dunia ini semuuaaaaaaa cewek ato cuman ada cowooooook mulu, pasti boring banget kan. Makanya jangan buru-buru menelan ide gender mentah-mentah apalagi sampe ikut memperjuangkannya tanpa kita melihat masalah ini secara lebih mendalam.

Sebagai dien yang sempurna, Islam memandang kalo perempuan dan laki-laki adalah sama dari sisi manusia. Laki-laki dikarunia seperangkat potensi berupa akal, naluri dan kebutuhan jasmani, maka begitulah pula perempuan. Oleh karena itu, Allah memberikan hak dan kewajiban yang sama antara keduanya. Perempuan diperintahkan sholat, puasa, berdakwah, dan sebagainya, laki-laki juga diwajibkan hal yang sama. Tapi adakalanya Islam menetapkan hak dan kewajiban yang berbeda terkait kekhususan yang dimiliki oleh keduanya, baik dari sisi fisik maupun psikis. Wanita diberi tanggung jawab utama di ranah domestik sebagai ibu dan pengatur rumah tangga sedangkan pria diberi beban sebagai kepala rumah tangga yang bertugas melindungi dan memenuhi sektor domestik. Pembedaan itu bukanlah bentuk diskriminasi Islam pada perempuan. Tapi Allah menetapkannya tidak lain karena fitrah mereka masing-masing dan demi kemaslahatan manusia. Karena Alloh berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 13, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” So, bukan kelaki-lakian atau keperempuanan seseorang yang menjadikannya mulia, tapi only bin cuman ketakwaan saja. Kalo seorang pria mampu menjadi seorang pemimpin rumah tangga yang mengarahkan seluruh isi rumahnya menuju ridho dan surga-Nya, maka dia akan sama mulianya dengan seorang perempuan yang semaksimal mungkin membereskan rumah, mendidik dan menyayangi anak-anaknya semata ikhlas karena Allah.

Islam menjadikan perempuan menjadi mitra kaum adam, bukan saingan apalagi musuh. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kaum perempuan adalah mitra kaum laki-laki.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i). Beragam persoalan yang muncul sebenarnya karena sistem kapitalisme sekuler yang masih dipeluk erat dalam kehidupan kita. Pornografi dan pornoaksi masih tersebar bebas, karena sebagian menganggap hal itu menguntungkan secara materi. Begitu juga masalah pergaulan bebas, kemiskinan (yang menjadi motif trafficking), kekerasan, dan masih banyak lagi, semuanya akan terus mendera selama kita belum sadar dan segera memperbaikinya. Makanya, sebagai mitra, tugas ini juga wajib diemban oleh pria juga wanita. Bersama-sama mbangunin umat dari tidurnya, untuk kembali pada petunjuk-Nya (Islam) yang mampu menjadi problem solver segala permasalahan. So, sama ga selalu adil kan?(sh)